{"id":1360,"date":"2022-07-04T11:41:33","date_gmt":"2022-07-04T04:41:33","guid":{"rendered":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/?p=1360"},"modified":"2024-04-28T11:37:19","modified_gmt":"2024-04-28T04:37:19","slug":"pk-ipnu-ippnu-ma-al-azhar-kota-banjar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/pk-ipnu-ippnu-ma-al-azhar-kota-banjar\/","title":{"rendered":"PK IPNU IPPNU MA  AL AZHAR KOTA BANJAR"},"content":{"rendered":"<div>\n<div>\n<div>KE \u2013 IPNU \u2013 AN DAN KE \u2013 IPPNU \u2013 AN<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div><\/div>\n<div>I.\u00a0\u00a0\u00a0 PENDAHULUAN<\/div>\n<div>IPNU-IPPNU sebagai organisasi yang bersifat keterpelajaran, kekaderan, kemasyarakatan, kebangsaan dan keagamaan yang berhaluan Islam Ahlussunah Waljamaah, ternyata dalam perkembangannya mengalami perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh tuntutan situasi dan kondisi.<\/div>\n<div>Oleh karenanya menjadi kewajiban setiap warga IPNU &#8211; IPPNU untuk terus mempelajari perubahan itu, mengkajinya kemudian mencoba untuk mengatisipasinya. Dan tentunya faktor historis sangat mendukung pula apabila warganya juga senantiasa merenunginya, mempelajari motivasi apa yang melatarbelakangi kelahirannya, dan bagaimana perkembangan organisasi ini dari masa ke masa. Karena dari segi historis pula kita akan mampu untuk menentukan langkah dan alternatif apa yang terbaik yang akan kita jadikan saran untuk terus menyebarluaskan IPNU &#8211; IPPNU sekaligus wadah generasi muda NU untuk menyalurkan aspirasi sekaligus sebagai media dakwah.<\/div>\n<div><\/div>\n<div>II.\u00a0\u00a0\u00a0 SEJARAH KELAHIRAN IPNU DAN IPPNU<\/div>\n<div>Ketika NU dilahirkan pada tahun 1926 adalah sebagai reaksi spontan terjadinya penyimpangan ajaran Ahlussunah Wal Jama\u2019ah di dalam negeri dan dunia internasional, hal ini mendapat sambutan dan dukungan luar biasa dari berbagai komunitas, baik tua maupun muda, terpelajar maupun awam. Terbukti dengan munculnya berbagai organisasi pelajar dan santri di berbagai pelosok negeri, tahun 1936 di Surabaya berdiri Tsamrotul Mustafidin dan PERSANO (Persatuan Nahdlatul Oelama\u2019) di Malang. Pada tahun 1941 berdiri PAMNO (Persatuan Anak Murid Nahdlatul Oelama\u2019), dan tahun 1945 berdiri Ikatan Murid Nahdlatul Oelama\u2019 (IMNO), tahun 1946 di Sumbawa berdiri Idjtimaut Tolabah Nahdlatul Oelama\u2019 (ITNO), dan masih banyak organisasi yang bermuatan lokal.<\/div>\n<p> (<script><\/script>)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KE \u2013 IPNU \u2013 AN DAN KE \u2013 IPPNU \u2013 AN I.\u00a0\u00a0\u00a0 PENDAHULUAN IPNU-IPPNU sebagai organisasi yang bersifat keterpelajaran, kekaderan, kemasyarakatan, kebangsaan dan keagamaan yang berhaluan Islam Ahlussunah Waljamaah, ternyata dalam perkembangannya mengalami perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh tuntutan situasi dan kondisi. Oleh karenanya menjadi kewajiban setiap warga IPNU &#8211; IPPNU untuk terus mempelajari perubahan itu, mengkajinya kemudian mencoba untuk mengatisipasinya. Dan tentunya faktor historis sangat mendukung pula apabila warganya juga senantiasa merenunginya, mempelajari motivasi apa yang melatarbelakangi kelahirannya, dan bagaimana perkembangan organisasi ini dari masa ke masa. Karena dari segi historis pula kita akan mampu untuk menentukan langkah dan alternatif apa yang terbaik yang akan kita jadikan saran untuk terus menyebarluaskan IPNU &#8211; IPPNU sekaligus wadah generasi muda NU untuk menyalurkan aspirasi sekaligus sebagai media dakwah. II.\u00a0\u00a0\u00a0 SEJARAH KELAHIRAN IPNU DAN IPPNU Ketika NU dilahirkan pada tahun 1926 adalah sebagai reaksi spontan terjadinya penyimpangan ajaran Ahlussunah Wal Jama\u2019ah di dalam negeri dan dunia internasional, hal ini mendapat sambutan dan dukungan luar biasa dari berbagai komunitas, baik tua maupun muda, terpelajar maupun awam. Terbukti dengan munculnya berbagai organisasi pelajar dan santri di berbagai pelosok negeri, tahun 1936 di Surabaya berdiri Tsamrotul Mustafidin dan PERSANO (Persatuan Nahdlatul Oelama\u2019) di Malang. Pada tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":1427,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[26,27,2,3,4,28,25,1],"tags":[],"class_list":["post-1360","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-info-update","category-kepanduan","category-kesiswaan","category-pendidikan","category-pengumuman","category-ppdb","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1360"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1360\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1727,"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1360\/revisions\/1727"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1427"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aliyahcitangkolo.sch.id\/web\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}